Panduan Singkat Menjelajahi Pulau Karampuang

By Ainayah Putri Az-Zahra · August 4, 2026

Panduan Singkat Menjelajahi Pulau Karampuang

Hanya dengan perjalanan singkat menggunakan perahu dari pusat Kota Mamuju, Sulawesi Barat, Anda akan tiba di sebuah pulau yang tidak sekadar dikelilingi laut. Pulau ini mendengarkan lautnya.

Pulau Karampuang, yang terletak di tengah Teluk Mamuju, berjarak sekitar tiga kilometer dari daratan. Menyebranginya terasa seperti melangkah ke dunia lain. Anda dapat menaiki perahu kayu tradisional yang disebut jolloro dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Kasawi. Tarif perjalanan pulang-pergi sekitar Rp35.000 dengan waktu tempuh 20-30 menit. Namun, pengalaman menyeberang di atas birunya laut menuju pulau hijau yang bentuknya menyerupai buaya tidur. Kadang laut menyuguhkan perjalanan tenang, kadang penuh gelombang. Apa pun kondisinya, terdapat sensasi tersendiri ketika menaikinya.

Setibanya di Karampuang, yang menyambut Anda bukan hanya daratan, tetapi sebuah dermaga kayu sepanjang 500 meter di Ujung Bulo. Berjalanlah perlahan di atasnya, sambil sesekali menunduk. Air lautnya begitu jernih hingga ikan-ikan terlihat menari di antara karang. Terdapat bulu babi, bintang laut, bahkan ikan langka mungkin menyapa jika beruntung. Anda tak perlu basah untuk menikmati keindahan bawah lautnya, tetapi snorkeling dan menyelam di sini sangat dianjurkan. Menyelam di Karampuang terasa seperti mengunjungi surga kecil di bawah permukaan laut, terhubung erat dengan kehidupan di atasnya.

Ritual dan Irama: Menyimak Detak Nadi Pulau

Karampuang menyimpan kekayaan budaya yang unik, salah satunya adalah Poalibeang Anggatang, sebuah ritual tiga hari yang dilaksanakan pada bulan janda atau di bulan Agustus. Menurut keyakinan setempat, nelayan yang memaksa melaut pada periode ini berisiko tak kembali. Ritual ini adalah wujud mendengarkan alam, menghormati perubahan suasananya, dan memohon perlindungan.

Meski dua tahun terakhir tak lagi dilaksanakan, Poalibeang Anggatang tetap hidup dalam ingatan kolektif warga. Prosesi ini mencakup nyanyian doa, persembahan, arak-arakan suci, hingga pelepasan perahu mini berisi makanan ke laut. Ia menjadi cermin tentang hubungan erat masyarakat Karampuang dengan laut, serta keyakinan bahwa diamnya laut pun mengandung pesan.

Goa Lidah: Saat Batu Bicara

Salah satu destinasi yang tak boleh dilewatkan adalah Goa Lidah. Pintu masuknya menyerupai mulut manusia raksasa, dengan formasi batu yang mirip langit-langit, lidah, dan tenggorokan. Dari luar tampak sempit, namun di dalam terbuka menjadi ruang luas dengan dinding kokoh yang seakan telah berdiam dan mendengar cerita selama berabad-abad.

Bagi masyarakat, goa ini dianggap sakral. Penduduk yang hendak merantau biasanya singgah di sini untuk berdoa, memohon keselamatan dan kesuksesan. Saat kembali dengan rezeki dan berkah, mereka datang lagi untuk mengucap syukur. Goa Lidah bukan sekadar ruang alam, tetapi sahabat bisu yang menyimpan harapan dan percakapan dengan Sang Pencipta.

Sumur Kapal & Sumur Tiga Rasa: Pertemuan Air dan Kenangan

Perjalanan Anda berlanjut ke Sumur Kapal, sebuah sumur air tawar berbentuk perahu. Konon, sumur ini terbentuk ketika pemburu zaman dahulu yang kehausan menusukkan bambu ke tanah, lalu mata air pun memancar. Sumur ini menjadi sumber air penting bagi warga untuk minum, memasak, dan mandi; sekaligus simbol kehidupan yang berpaut pada laut.

Tak jauh dari sana terdapat Sumur Tiga Rasa, sumur peninggalan Belanda yang awalnya hanya berair asin. Keajaiban terjadi ketika seorang ulama membaginya menjadi tiga bagian, masing-masing memiliki rasa berbeda: asin, tawar, dan payau. Warga meyakini ini bukan kebetulan. Sumur ini melambangkan persatuan, keseimbangan, dan kasih. Karena itu, ia juga dikenal sebagai Sumur Jodoh. Konon, meminum airnya dapat mempertemukan seseorang dengan belahan jiwanya. Entah dipercaya atau tidak, banyak anak muda yang datang diam-diam dengan harapan di mata mereka.

Batu Pute: Legenda Batu Putih

Di Dusun Bone, berdiri Batu Pute—formasi batu karang putih alami yang menjulang di tepi tebing. Untuk mencapainya, Anda harus menaiki tangga batu yang curam, dengan suara ombak menghantam dari kejauhan. Perjuangan menuju puncak akan terbayar oleh pemandangan biru laut dan cahaya matahari yang memantul di batu putih tersebut.

Namun, Batu Pute bukan sekadar panorama. Warga percaya batu ini menyimpan kekuatan spiritual dan jejak leluhur. Hanya mereka yang datang dengan hati tenang yang dapat merasakan auranya. Lokasi ini dikelola bersama Dinas Pariwisata dan tetap dijaga kesakralannya oleh masyarakat Karampuang. Ia bukan tempat untuk keramaian, melainkan ruang hening untuk merenung dan mendengar cerita yang disimpan alam.

Senja Hangat, Senyum Ramah, dan Jajanan Manis

Sore hari di Karampuang adalah waktunya kehidupan sederhana terasa paling hangat. Anak-anak berlarian dengan kaos bergambar tokoh kartun, sambil memegang minuman dingin dari warung kecil. Jangan lewatkan kue tetu, sebuah penganan lengket dalam bungkus daun pisang, atau roti jepa, roti pipih dari singkong yang sering diberi sirup manis. Satu gigitan saja cukup membuat senyum mengembang.

Di lapangan terbuka, para ibu berkumpul bukan untuk berbincang, tetapi bermain voli di bawah matahari. Lapangan yang sama dipakai bergantian untuk voli, sepak bola, atau permainan tradisional seperti mogasing (gasing) dan moresu (petak umpet khas Karampuang). Suasana ramai ini selalu menyambut pengunjung, entah dengan ajakan langsung atau tatapan penasaran yang ramah.

Dinamika Hidup dengan Perlahan

Tinggal di Karampuang berarti menjalani ritme yang berbeda. Air mengalir hanya sekali seminggu. Listrik menyala tak menentu. Kadang mulai pukul 10 pagi, kadang lebih lama, dan padam antara pukul 9–11 malam. Namun cahaya ponsel tetap berpendar di meja makan, diiringi obrolan tetangga hingga larut malam.

Lalu lintas di sini bukan deru kendaraan, melainkan sapaan motor sesekali lewat. Bahasa yang terdengar adalah bahasa Mamuju, berisi cerita kehidupan dan kabar acara. Banyak keluarga memiliki anggota yang merantau, lalu kembali membawa kisah. Saat matahari terbenam di balik Mamuju dan terbit kembali dari Ujung Bulo, Karampuang tetap hidup: dalam mitosnya, dalam sumurnya, dalam pertandingan volinya, dan dalam tawa anak-anak yang memegang es cekek sembari bercanda gurau.

Karampuang bukan sekadar pulau. Ia adalah kisah yang bisa Anda jelajahi, dan membawa pulang dalam ingatan, lama setelah kaki meninggalkannya.